Selasa, 05 Juli 2016

Cerpen Mengharukan dan bikin Merinding




Cerpen Mengharukan

Janji yang tak pernah ditepati

Kala itu hujan yang cukup deras. Aliran air yang menuruni lereng yang landai pun terlihat jelas. Di kala itu pula, Anya sedang menunggu seseorang di sebuah emperan ruko di dekat rumahnya. Nampaknya atap fiber toko tersebut tak kuat menahan laju hujan yang kian menderas. Anya semakin kebasahan karena hujan pun diiringi angin. "Brrr... sepertinya hari ini aku harus terpaksa kebasahan lagi. Payungnya mendadak rusak dan tak jadi kubawa. Anto mana ya? sedari tadi ku menunggu belum terlihat sama sekali batang hidungnya." di sela hujan Anya membisik kepada sepercikan air yang menghampirinya.
Anya sedang menunggu Anto yang akan membawakannya sebuah kotak milik adiknya yang berisi peralatan sekolah. Kebetulan, besok adalah hari pertama adik anya bersekolah. Karena rumah Anya baru saja pindah, jadi ia terpaksa menunggu Anto di persimpangan jalan ara menuju rumah barunya.
Hujan sudah mereda, hanya tersisa sedikit rintik air hujan tanpa angin sedikitpun. Tapi, Anto sama sekali belum menunjukkan keberadaannya. Anya semakin resah, mengingat hari ini sudah hampir malam. Padahal Anto berjanji menghantarkannya tepat setelah ia sholat Zhuhur.
Jarak dari rumah Anto ke rumah Anya tidaklah terlalu jauh. Jika menggunakan mobil sedan Camry yang biasa Anto pakai mungkin hanya memakan waktu setengah jam. Jika satu jam, Anto sudah dapat berkeliling desa sembari makan mie instan di kedai di ujung desa. Namun, ini sudah 4 Jam dari waktu seharusnya. Kemana Anto dan kotaknya?
"Dasar cowok tak tahu diri. Cowok macam apa yang memberikan janji kemudian mengingkarinya begitu saja? Sungguh keterlaluan! Kalau saja Hp ku tidak rusak pasti sudah ku telepon sedari tadi", gerutu Anya yang emosinya semakin memuncak.
Adzan maghrib sudah dikumandangkan, Anya sudah kembali ke rumanya dengan kejengkelan yang luar biasa. Ia selalu mempercayai Anto, tapi disaat ia dan adiknya butuh, Anto malah menghilang begitu saja. Bagi Anya, ini sungguh membuatnya kesal dan marah. Tapi, marah saat ini pun tak ada gunanya, pasalnya, adiknya lebih membutuhkan kotak itu untuk sekolahnya besok.
Malam semakin larut, Anya masih berharap Anto datang dengan senyum dan kata-kata maafnya. Namun itu hanyalah angan, hingga hampir tengah malam Anto belum datang juga.
Keesokan harinya, pagi buta ada seseorang mendatangi rumah Anya, oh nampaknya itu mang Joni, Ketua dusun Sukalandai. "Anya, ini. Tadi ada laki-laki memberikan kotak ini, katanya ini untuk adikmu"
Tanpa basa-basi pun Anya menerima kotak tersebut, karena ia berpikir, Anto akan sangat malu karena terlambat menghantarkannya.
Namun seketika dia membuka kotak tersebut, ada sebuah surat dilapisi amplop putih pucat nan lusuh.
Karena ini sudah cukup siang, jadi Anya memutuskan memilih mempersiapkan peralatan sekolah adiknya.
Siang itu cukup cerah, dan sangat kebetulan karena Hp Anya yang sudah seminggu rusak sudah dapat dipakai lagi meski hanya untuk telpon dan SMS. Tak panjang pikir, Anya hendak menelepon Anto, ingin menanyakan kejadian kemarin. Anto tidak menjawab. Kemudian dia menelpon Ibunya, dia menjawab dengan sangat lembut. "Halo Anya, ada apa ya?", "Mmm, bisa bicara dengan Antonya sebentar bu?"
"Lho, kan kemarin siang dia ke rumah kamu An, ibu pikir ia menginap di masjid dusun kamu lagi karena semalam kembali hujan."
Bingung dan kaget mendengar jawaban sang ibu, Anya akhirnya melihat sebuah surat, ya, surat yang tadi pagi ada di dalam kotak.

"Anya, maaf. Aku tidak akan pernah sempat memberi ini padamu, jadi kutitip pada temanku yang kebetulan akan lewat dusunmu. Ini sungguh larut malam, jadi aku dan temanku akan bermalam di jalan. Mobilku pun rusak parah karena sore tadi benturan ke pohon itu ternyata cukup keras. Aku sudah tak kuat bahkan hanya untuk berjalan. Kutitipkan barang adikmu pada temanku, dia mungkin bisa menyampaikannya padamu. Kuharap kau tidak terlalu bersedih, karena mulai malam ini, wajahku takkan menghiasi harimu lagi, dan kau tidak perlu lagi menungguku di persimpangan jalan itu setiap minggu sore. Kuharap kau menyampaikan ini pada orang tuaku ya."


ditulis oleh : Raihan Umar Andika
Instagram : raihanumarandika
Line Id : raihann...

Senin, 04 Juli 2016

CERITA HUMOR KEREN

CERPEN HUMOR

SALAH NURUNIN RESLETING

Tumini seorang wanita dewasa pegawai sebuah kantor swasta asing pagi itu mau berangkat kerja dan lagi menunggu bus kota di mulut gang rumahnya. Seperti biasa pakaian yang dikenakan cukup ketat, roknya semi-mini, sehingga bodinya yang seksi semakin kelihatan lekuk likunya.

Bus kota datang, tumini berusaha naik lewat pintu belakang, tapi kakinya kok tidak sampai di tangga bus. Menyadari keketatan roknya, tangan kiri menjulur ke belakang untuk menurunkan sedikit resleting roknya supaya agak longgar.

Tapi, ough, masih juga belum bisa naik. Ia mengulangi untuk menurunkan lagi resleting roknya. Belum bisa naik juga ke tangga bus. Untuk usaha yang ketiga kalinya, belum sampai dia menurunkan lagi resleting roknya, tiba-tiba ada tangan kuat mendorong pantatnya dari belakang sampai Marini terloncat dan masuk ke dalam bus.

Tumini melihat ke belakang ingin tahu siapa yang mendorongnya, ternyata ada pemuda gondrong yang cengar-cengir melihat Tumini.

“Hei, kurang ajar kau. Berani-beraninya nggak sopan pegang-pegang pantat orang!”

Si pemuda menjawab kalem, “Yang nggak sopan itu situ, Mbak. Masak belum kenal aja berani-beraninya nurunin resleting celana gue.”  



Seorang Profesor

Profesor Carter berjalan kaki mengunjungi rumah seorang temannya yang terletak di ujung jalan. Setelah makan malam dan bermain catur, dia berpamitan hendak pulang. Tapi tiba-tiba hujan turun dengan derasnya dan angin bertiup sangat kencang.
"Jangan pulang dulu, hujan sangat deras dan udara sangat dingin juga. Menginap saja di sini!," cegah temannya. Sang Profesor segera menyetujui tawaran tersebut. Maka temannya itu masuk ke dalam rumah dan menyuruh istrinya untuk menyiapkan tempat tidur.

Ketika dia keluar lagi ke ruang tamu, ternyata Profesor itu sudah tidak ada. Dia dan istrinya mencari-cari ke segala sudut rumah, tetapi tidak menemukan Profesor.

Tiba-tiba terdengar orang membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
"Profesor Carter! Darimana saja engkau?" seru temannya.
"Ya? aku pulang sebentar ke rumah untuk mengambil baju tidurku," jawab Profesor.